Lewati navigasi

Arsip Bulanan: November 2011

Pertama kali ketika saya membaca pengumuman tentang lomba menulis ini, saya langsung memikirkan kira-kira momen kebersamaan apa antara saya dan Mama yang paling berkesan buat saya. Beberapa momen kebersamaan terlintas di kepala saya, tetapi saya tidak menganggap hal itu cukup spesial untuk diceritakan. Kemudian momen-momen kebersamaan sederhana tadi terganti dengan momen-momen lain dalam kepala saya. Momen ketika saya masih remaja berumur belasan tahun yang akan berbicara dengan nada tinggi kepada Mama saya ketika beliau mulai cerewet menasehati ini itu dengan panjang lebar dan momen ketika saya bertengkar dengan Mama karena berbeda pendapat.

Lalu saya teringat dua peristiwa dimana saya merasa malu ketika Mama datang ke sekolah saya. Peristiwa pertama terjadi ketika saya masih duduk di bangku sd, mungkin kelas 2 atau 3 SD, saya sudah tidak begitu ingat tepatnya. Ketika itu saya baru masuk sekolah lagi setelah sakit. Pada jam istirahat,  Mama datang membawakan saya susu. Dan teman-teman yang melihat pun mulai menggoda saya betapa anak maminya saya sampai harus dibawakan susu segala ke sekolah.

Peristiwa kedua terjadi sewaktu saya kelas 2 SMP, waktu itu Mama datang ke sekolah untuk mengantarkan kunci rumah. Saat itu saya lupa membawa kunci rumah dan Mama akan pergi keluar sehingga tidak akan ada orang di rumah saat saya pulang sekolah. Kejadian itu berlangsung saat jam istirahat, sehingga banyak teman-teman saya yang melihatnya dan kembali meledek saya anak mami karena sudah besar begini masih saja dikunjungi Mama ke sekolah. Saat itu entah mengapa saya merasa malu sekali, sehingga saat pulang ke rumah, saya pun menceritakan kejadian itu ke Mama sambil bersungut-sungut dan bilang kalau saya malu karena diledek teman-teman. Saat itu Mama membantah saya dengan mengatakan: “Buat apa malu, kan Mama cuma nganterin kunci, daripada kamu harus nunggu berjam-jam di luar rumah karena nggak bawa kunci?”. Tetapi sejak saat itu, Mama tidak pernah lagi muncul di sekolah saya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Tidak pernah terpikirkan oleh otak kecil saya saat itu betapa perhatiannya Mama yang mau capek-capek datang ke sekolah membawakan susu untuk  memastikan kesehatan saya terjaga dan mau datang untuk mengantarkan kunci yang tertinggal karena kecerobohan saya sehingga saya tidak perlu menunggu di depan rumah dalam keadaan lapar dan capek setelah pulang sekolah. Sebaliknya dari berterima kasih, saya malah memasang muka cemberut dan mengatakan saya malu karena jadi bahan ledekan teman-teman.

Mama hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Beliau yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sekaligus merawat dan membesarkan ketiga anak-anaknya. Ketika saya masih tinggal di rumah, saya tidak pernah mengucapkan terima kasih atas masakannya setiap hari, atas Mama yang mengerjakan semua tugas rumah dengan bantuan pembantu yang datang hanya di pagi hari selama beberapa jam, atas Mama yang menemani hari-hari saya dalam suka dan duka, setia mendengarkan dan berbagi cerita dengan saya di saat-saat senggang, dan juga merawat di kala saya sedang sakit. Semuanya terasa biasa saja kala itu, seakan-akan memang sudah seharusnya begitu.

Saya baru tersadar betapa berartinya semua hal-hal yang tadinya saya anggap biasa saja itu ketika saya sudah kuliah dan tinggal di pulau yang berbeda. Minggu-minggu pertama berpisah dari orang tua dan tinggal sendiri di kost adalah yang terberat. Saya merindukan momen dimana kami saling bertukar cerita tentang kegiatan seharian itu, seringnya ketika Mama sedang memasak makan siang atau makan malam. Saya akan berdiri di dekatnya memperhatikan beliau memasak sambil bercerita tentang kegiatan saya hari itu kepada Mama, lalu Mama juga akan menceritakan tentang kejadian seputar rumah, teman-temannya, masa lalu, atau apa saja yang terlintas di pikiran saat itu. Bahkan saya merindukan momen dimana Papa, Mama dan saya berada dalam satu ruangan dan melakukan kegiatan kami masing-masing tanpa saling bertukar kata. Menyadari keberadaan mereka di dekat saya saja rasanya sudah membuat saya nyaman.

Mama mungkin bukanlah orang yang sempurna. Beliau kadang suka cerewet, kadang khawatir berlebihan, kadang terlihat cuek, dan kadang kala, omongannya menyakitkan hati. Mama bukan tipe ibu yang bisa mengungkapkan kasih sayang secara eksplisit kepada anak-anaknya. Bahkan seingat saya, Mama tidak pernah memeluk anak-anaknya. Saya tidak menyalahkan Mama, beliau memang dibesarkan dalam lingkungan seperti itu. Kakek dan nenek terlalu sibuk mengurus usaha mereka dan tidak sempat untuk memberikan waktu berlebihan kepada 8 orang anak-anak mereka. Sejak kecil Mama dan saudara-saudaranya sudah dilatih untuk mandiri dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun tidak diperlukan sosok Mama yang sempurna untuk membuat saya mencintainya, I love her for who she is. Toh masing-masing orang punya cara untuk mengekspresikan perasaannya. Dan salah satu cara Mama mengekspresikan kasih sayangnya adalah dengan kecerewetan dan kekhawatiran yang kadang-kadang berlebihan itu. Saat Mama terlihat cuek adalah saat-saat beliau tidak mau membuat orang lain khawatir atau saat beliau tidak mampu mengungkapkan perasaannya. Dan omongannya yang kadang menyakitkan hati adalah saat-saat dimana beliau jujur mengatakan yang sebenarnya.

Ketika saya telah cukup peka untuk memperhatikan dan merasakan, saya melihat bagaimana beliau akan merasa senang dan bahagia pada hari-hari dimana salah satu anaknya akan pulang ke rumah, bagaimana beliau akan memasak makanan kesukaan anak-anaknya yang sedang pulang, dan bagaimana beliau akan sedih menjelang hari kepulangan anak-anaknya kembali ke kota tempat mereka tinggal. Saya melihat Mama yang selalu berdiri di garis paling depan membela dan mendukung anak-anaknya. Dan saya melihat Mama yang mempunyai hati yang sangat lembut. Beliau tidak segan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Mama juga selalu memaafkan dan tidak mendendam kepada anak-anaknya yang pernah membangkang dan kurang ajar kepadanya.

It’s weird how it took me to live separate from my Mom before I realized how much she worth for me, that all this time I just took her for granted.

Tetapi, lebih baik terlambat menyadarinya daripada tidak sama sekali bukan? Saat ini, rumah bagi saya adalah tempat dimana keluarga saya berada. Suatu saat nanti, saya berharap saya bisa dengan bangga berkata bahwa saya adalah saya berkat Mama dan Papa yang sudah membesarkan saya dengan penuh cinta. I love you Mom, thank you for all that you have done for me, I’ll never forget it.

Cerita ini diikutkan dalam Kontes Cerita Ibu Tercinta (Please Look After Mom) yang diadakan Gramedia dengan tema “Ibu di Mataku”.

Dedicated to my beloved Mother

from your daughter Dewi K Chandra

Saya + buku look after mom + foto Mama (note: Mama tinggal di luar kota, jadi ngak bisa foto bareng mama)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.