Arsip Bulanan: Oktober 2008

Setelah sebelumnya selalu gagal di beberapa turnamen seperti di Piala Thomas, Olimpiade Beijing 2008, serta beberapa turnamen Super Series seperti All England, Jepang Terbuka, serta China Masters, Taufik akhirnya membuktikan bahwa dirinya belum ‘habis‘, dia berhasil menjuarai Macau Grand Prix Gold 2008 pada tanggal 5 Oktober lalu.

Taufik yang diunggulkan di tempat ke-4 mengalahkan Lee Chong Wei (Malaysia), unggulan pertama dalam turnamen ini sekaligus pemain peringkat 1 dunia ini dalam 2 game langsung 21-19 21-15 dengan waktu 38 menit pada pertandingan final. Ini merupakan kemenangan pertama Taufik setelah kalah dalam tiga pertemuan terakhir.

Bagi Taufik yang merupakan pemain peringkat 10 dunia saat ini, gelar ini merupakan gelar pertamanya di tahun ini setelah serangkaian kegagalan pada turnamen-turnamen sebelumnya yang kebanyakan dimenangkan oleh rekan senegaranya Sony Dwi Kuncoro (juara Djarum Indonesia Open 2008, Jepang Terbuka 2008, China Masters 2008).

Sementara bagi Lee Chong Wei, kegagalan ini juga dapat dikatakan sangat menyakitkan baginya karena pada beberapa turnamen sebelumnya, dia juga selalu menjadi runner up (runner up/peraih medali perak di Olimpiade Beijing 2008 setelah dikalahkan Lin Dan dari China, runner up pada turnamen Jepang Terbuka setelah dikalahkan oleh Sony Dwi Kuncoro, mundur dari kejuaraan China Masters setelah kalah di Jepang Terbuka sepekan sebelumnya dan kemudian menjadi runner up di Macau Grand Prix Gold 2008).

Dalam Turnamen ini, China menjadi juara umum dengan meraih gelar di dua nomor yaitu nomor ganda campuran dan ganda putri (Xu Chen/Zhao Yunlei dan Cheng Su/Zhao Yunlei). Indonesia kebagian 1 gelar melalui Taufik Hidayat di nomor tunggal putra, sementara Hongkong dan Malaysia juga masing-masing kebagian 1 gelar melalui Zhou Mi (Hongkong) di nomor tunggal putri dan Koo Kien Keat/Tan Boon Heong (Malaysia) di nomor ganda putra.

Berikut hasil selengkapnya:
MS: Taufik Hidayat[4] (INA) – Lee Chong Wei[1] (MAS) 21-19 21-15 0:38
WS: Zhou Mi[3] (HKG) – Julia Wong Pei Xian[8] (MAS) 21-13 21-19 0:36
MD: Koo Kien Keat/Tan Boon Heong[1] (MAS) – Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu[2] (TPE) 21-16 21-18 0:31
WD: Cheng Su/Zhao Yunlei(CHN) – Ma Jin/Wang Xiaoli(CHN) 21-15 21-18 0:31
XD: Xu Chen/Zhao Yunlei(CHN) – Yohan Hadikusumo Wiratama/Chau Hoi Wah[1](HKG) 21-15 21-16 0:31

Berikut saya sertakan juga hasil dari pertandingan final turnamen Jepang Terbuka dan China Masters Super Series 2008 yang berlangsung belum lama ini

Yonex Japan Super Series 2008 (16-21 September):
MS: Sony Dwi Kuncoro[2] (INA) – Lee Chong Wei[1] (MAS) 21-17 21-11 0:40
WS: Wang Yihan(CHN) – Zhou Mi[7] (HKG) 21-19 17-21 21-15 1:01
MD: Lars Paaske/Jonas Rasmussen[2] (DEN) – Muhammad Ahsan/Bona Septano(INA) 21-17 15-21 21-13 0:52
WD: Cheng Su/Zhao Yunlei(CHN) – Chin Eei Hui/Wong Pei Tty[4] (MAS) 21-19 5-21 21-13 0:54
XD: Muhammad Rijal/Vita Marissa[5] (INA) – Nova Widianto/Liliyana Natsir[1] (INA) 14-21 21-15 21-19 0:42

CHINA MASTERS SUPER SERIES 2008 (24-28 September):
MS: Sony Dwi Kuncoro[5] (INA) – Chen Jin[4] (CHN) 21-19 21-18 0:51
WS: Zhou Mi[6] (HKG) – Wang Lin(CHN) 21-19 19-21 21-16 1:06
MD: Markis Kido/Hendra Setiawan[1] (INA) – Sun Junjie/Xu Chen(CHN) 21-17 24-22 0:31
WD: Cheng Su/Zhao Yunlei(CHN) – Zhang Dan/Zhang Zhibo(Macau) 21-14 21-11 0:29
XD: Xie Zhongbo/Zhang Yawen[3] (CHN) – Nova Widianto/Liliyana Natsir[1] (INA) 21-17 21-17 0:40

From: Haha Hihi
Date: Thursday, September 25, 2008, 2:15 AM

Saya seorang pribumi yg dulunya benci setengah mampus dengan WNI Keturunan Cina. Tetapi, setelah hidup di Amerika selama 10 tahun dan sekarang bekerja di salah satu bank terbesar di dunia yang berpusat di New York City,pandangan saya berubah dan jd mengerti mengapa Cina itu berbeda dengan orang pribumi. Ini tidak ada hubungannya dgn unsur SARA,mohon pengertiannya.

Sebenarnya banyak sekali hal-hal yg kita tidak mengerti tentang cina, dan hal-hal ini sebenarnya harus kita ketahui dan kita pikirkan lagi, karena hal-hal ini adalah sesuatu yg bisa kita pakai untuk kepentingan bangsa kita sendiri dan utk memajukan bangsa kita sendiri. Saya tidak bilang bahwa kita harus berubah jadi Cina, cuma kalau memang bagus, WHY NOT? Memang ada juga hal-hal buruknya, tetapi tentu semua bangsa juga memiliki hal2 buruk disamping hal2 yg baik.

Marilah saya mulai pendapat tentang perbandingan antara WNI asli
dan keturunan cina:
1. Perbedaan2 nyata Setelah bekerja 3 tahun lebih dan memiliki teman dekat orang bule dan orang Cina dari Shanghai di tempat kerja saya, saya melihat banyak sekali perbedaan-bedaan, diantaranya :

UANG
a) Si BULE, kalo gajian langsung ke bar, minum-minum sampe mabuk, beli baju baru, beli hadiah macam-macam untuk istrinya. Dan sisanya 10% di simpan di bank. Langsung makan-makan di restoran mahal, apalagi baru gajian.
b) Si Cina, kalau gajian langsung disimpan di bank, kadang-kadang di invest lagi di bank, beli Saham, atau dibungain. Bajunya itu2 saja sampe butut. Saya pernah tanya sama dia, duitnya yg disimpen ke bank bisa sampe 75%-80% dari gaji.
c) Saya sendiri. kalo gajian biasanya boleh deh makan-makan sedikit, apalagi baru gajian, beli baju kalo ada yg on-sale (lagi di discount), beli barang-barang kebutuhan istri, sisanya kira2 tinggal 15-20% terus disimpen di bank.

*** Kebanyakan di Amerika, orang Cina yang kerja kantoran (sebenarnya Korea dan Jepang juga)walopun masih muda-muda tp sudah bisa naik mobil bagus dan bisa mulai beli rumah mewah.Walaupun orang tuanya bukan konglomerat dan bukan mafia di Chinatown. Malah mereka beli barang senangnya cash, bukan dgn kredit. Soalnya cara mereka nabung benar-benar tidak bisa dikalahkan oleh bangsa lain. Kalau bule atau orang hitam harus ngutang dl sampe udah ngerti susahnya melunasi kredit dan bisa lunas br deh beli rumah.

KERJAAN
a) si BULE, abis kerja (biasanya jam kerja jam 8 pagi – 6 sore) hari Senen sampai hari Jumat (Sabtu dan minggu tidak kerja)) ke bar ato makan-makan ngabisin gaji. Kalau disuruh lembur tiba-tiba, biasanya akan kesel-kesel sendiri di kantor. Biasanya kalo hari Senen, si bule tampangnya pasti kusut, soalnya masih hrs nunggu lama sampe hari Sabtu, pikirannya pasti weekend melulu. Kalo hari Kamis, si bule males kerja, pikirannya hari Jumat melulu. Terus jalan-jalan gosip kiri kanan,
b) si CINA, abis kerja langsung pulang ke rumah, masak sendiri, nggak pernah makan diluar (saya sering ngajak dia makan diluar,tp tidak pernah mau, mahal katanya,hrs simpan duit, kecuali kalo ada hari-hari khusus). Kalau disuruh lembur tidak pernah menolak, malah sering menawarkan diri untuk kerja lembur. Kalau disuruh kerja hari sabtu atau hari minggu juga pasti mau. Kadang-kadang dia malah kerja part-time(bukan sebagai pegawai penuh) di perusahaan lain untuk menambah uangnya.
c) saya sendiri, kalau disuruh lembur, agak malas juga karena udah punya rencana keluar pergi makan sama teman-teman kantor. Kadang-kadang pengen segera plg ke rumah karena udah seharian di kantor melulu, cuma mau nggak mau hrs kerja(jadi kesannya sedikit terpaksa, nggak seperti si cina yg oke2 aja). Weekend paling malas kalau hrs kerja.

*** Bos-bos juga biasanya lbh suka sama orang Cina kalau soal kerjaan.
Soalnya para bos tau bahwa cina mmg pekerja yg giat dan tidak pernah bilang ‘NO’ sama boss. Dapat kerja juga gampang kalau mukanya cina, karena dipandang sebagai ‘Good Worker’ atau pekerja giat. Jarang sekali mrk menolak kerjaan, kecuali ada hal yg penting sekali/mendesak barulah dia tidak bersedia lembur. Dan kalaupun tidak bersedia lembur, biasanya dia akan datang sabtu atau minggu, atau kerja lembur utk besoknya.

RUMAH
a) Apartment si BULE,wah bagus bgt.Gayanya kontemporari,penuh dengan barang-barang perabotan dan furniture mahal. Pokoknya gajinya pasti abis utk ngurusin apartmentnya.
b) Apartment si CINA, wah… kacau balau. Cuma ranjang satu,itupun cm dilantai saja, meja butut, dan dua kursi butut. TV nya kecil ukuran 14inc, TV kabel aja ga punya. Pokoknya sederhana bgt deh,waktu saya tanya, dia bilang ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.’ Daerah tempat tinggalnya pun bukan didaerah mahal, tempatnya di daerah kumuh dan saya yakin hampir ga ada yg berhasrat utk menetap disana.
c) Apartment saya sendiri, yah lumayan lah.Cuma istri saya jg suka merias rumah.Jadi apartment saya lumayan lah ga seperti punya si Cina.Saya benar-benar salut bgt,dia bisa hidup spt itu Padahal duitnya di bank kan pasti byk.
Gaji si cina aja lebih tinggi dari saya karena udah lebih lama di perusahaan tersebut.

*** Setelah 10 thn, biasanya si bule, orang item, masih tinggal di apartment atau baru ngutang beli rumah,si cina udah bisa beli rumah sendiri. Karena nabung dengan giatnya, krn cuma beli yg penting-penting aja. Jadi uangnya benar2 buat ditabung dan diinvest.

*** Disini saja saya bisa lihat perbedaan-bedaan nyata,saya sempat berpikir,wah si Cina ini pelit amat. Masa duit banyak kayak begitu cm disimpen aja di bank.Dan kalau kita banding-bandingkan dengan sejarah orang-orang cina, kita akan tahu kenapa mereka (Cina) itu dalam long-range nya (jangka panjang nya)lebih maju dari pribumi di Indonesia,karena saya sempat bertukar pikiran dengan beberapa teman yg orang Cina lainnya, orang India, orang Arab, orang Jerman, orang Amerika, dan orang Cina ini sendiri. Kita mestinya hrs tau sejarahnya orang Cina ini.

2. Perbandingan antara sejarah kebudayaan cina dan Indonesia JAMAN DULU dimana Bangsa cina adalah bangsa yg bangga dengan bangsanya,karena kebudayaan cina adalah salah satu kebudayaan tertua di dunia,hampir setaraf dengan Mesopotamia dan Mesir. Karena itu kebudayaan cina itu benar-benar menempel di sanubari nya.Susah sekali untuk melepaskan kebudayaan tersebut dr mrk karena memang betul kebudayaan mereka itu hebat, terus terang,
kalau kita bandingkan dengan kebudayaan kita (pribumi Indonesia) kita ga akan bisa mengalahkan kebudayaan orang cina.Bukan bermaksud utk meninggikan cina tp mmg itulah kenyataanya,

Menurut salah satu Journal of Archeology terkemuka di dunia, orang Melayu itu unsurnya lebih banyak mengarah ke bangsa Mongol atau Cina. Jadi bangsa Indonesia itu sebenarnya Cina, walaupun secara biologis dan evolusis, ada unsur-unsur dari India dan Arab di darah orang pribumi.Tetapi orang Indonesia (Melayu) itu sebenarnya genetik nya lebih dekat ke orang Cina.

Orang cina sudah dari dulu (4000 tahun lalu) hidupnya selalu kesusahan terus(maksudnya rakyat kecilnya). Negara cina dari jaman dulu,selalu berperang terus, rakyat kecil disiksa olah pemerintahnya sendiri, dan pemerintahnya terus berganti.Orang cina bisa dibilang salah satu bangsa yang tahan banting.Sudah biasa menderita, dan makin menderita,biasanya orang akan makin nekat dan makin berani, jadi semua jalan akan ditempuh utk bertahan hidup,mo gmn lg. Ini juga terjadi di Indonesia.

Karena negaranya sendiri, Cina, banyak masalah, mereka ber-imigrasi kemana-mana.Mereka ada dimana-mana,teman saya orang item dari Nigeria dan Ethiopia (afrika) bilang,disana pun ada banyak orang cina. Dan herannya. Cina-cina di Afrika pun sukses dan bisa dibilang tidak dgn taraf ekonomi yg miskin ato melarat.Paling minim mereka bisa dibilang dlm taraf mencukupi,

Di Indonesia sendiri,waktu saya masih tinggal di Jakarta,saya bisa melihat perbedaan-perbedaan nyata,cuma waktu itu pikiran saya belum terbuka dan sangat mendiskreditkan org cina/WNI keturunan. Saya pernah buka sbh Rumah Makan dimana disamping toko saya didaerah Senen ada WNI keturunan yg buka toko kain.Di sebelahnya persis lg ada pak Haji yg juga buka toko kain. Setelah 2 tahun, bisnis si cina makin maju, dan si pak Haji sebelah akhirnya bangkrut. Ternyata bukan karena si Cina main curang atau main guna-guna si pak haji.Ternyata itu karena si cina, walaupun sudah untung,uangnya akan di simpan dan ditabung untuk mengembangkan bisnisnya lagi. Dia dan istrinya sering sekali saya lihat hanya makan dgn lauk seadanya, sedangkan si pak haji baru untung sedikit sudah makan makan di restoran terkenal karena gengsi dgn keluarga nya.

Nah bukannya si pak haji ini salah langkah?Bukannya kita bisa lihat sendiri bahwa cina ini pikirannya lebih maju,lebih melihat kedepandan lebih tahan banting?Saya kira ini adalah suatu hal yang bisa kita contoh dari si Cina ini. Mungkin kita tidak perlu terlalu pelit seperti dia,tapi juga tentu tidak usah gengsi-gengsian.

Saya sudah bertemu dengan banyak orang dari negara yg berbeda-beda dan satu hal yg benar-benar nyata adalah KERJA KERAS DENGAN PEMIKIRAN JAUH KE DEPAN. Coba saja lihat orang Hong Kong, orang Jepang, orang Inggris, orang Amerika, orang Jerman dan orang Singapore, mereka sudah SGT MAJU sekali pemikirannya. Orang Indonesia sayangnya gengsinya tinggi sekali,tidak mau mengakui kalau memang salah atau harus merubah sesuatu yg jelek. Inilah kelemahannya.

Di mata Internasional bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai NAZI Jerman versi Asia Tenggara. Waktu perang dunia ke II bangsa Jerman sedang miskin karena mereka kalah perang dunia ke I, supaya rakyat tidak marah, si Hitler yg cerdik sengaja menyalahkan orang Yahudi yg memang kaya dan menguasai ekonomi Jerman. Akibatnya org yahudi dibantai habis dan tidak diperlakukan lyknya warga negara sendiri. Padahal mereka juga sudah lama tinggal di Jerman dan sudah merasa JERMAN sebagai bangsa mrk sendiri,tentu mereka masih memegang teguh kebudayaan mereka sendiri, sama seperti org cina di Indonesia.

Anehnya di Indonesia,org pribumi benci dengan org cina tetapi tidak benci dengan orang Belanda ataupun orang Jepang.Kalau dipikir-pikir,org cina tidak salah apa-apa dan tdk pernah menyakiti kita, bahkan mereka ikut mendongkrak perdagangan Indonesia. Saya sebagai pribumi baru sadar akan hal itu,

Bangsa Belanda menyiksa bangsa Indonesia dan menguras harta bumi kekayaan Indonesia selama 350 tahun dan setelah itu pergi meninggalkan Indonesia dgn penyakit yg paling bahaya dan sudah mendarah daging, yaitu KORUPSI,yg sampai sekarang juga menimbulkan krisis ekonomi setelah 53 tahun merdeka rupanya penyakit ini bukannya makin terobati, tetapi makin menusuk dan menular ke seluruh badan dan mental bangsa Indonesia.

Bangsa Jepang,walaupun hanya menguasai Indonesia selama 3,5 tahun,tapi telah menyiksa rakyat bangsa Indonesia lebih kejam dari bangsa lain. Karena kalah perang, bangsa Jepang mau tidak mau sekarang musti menguasai dunia secara ekonomi dan tidak bisa lagi main angkat senjata.Tp ada 1 hal penting lg,rakyat Jepang jg sangat menghargai kebudayaan mereka sendiri,mencintai produk lokal mereka,bisakah kita seperti itu??
Saya yakin jawabannya TIDAK BISA,

Tp anehnya kita sebagai pribumi malah benci dengan org cina bukannya dengan Belanda atau Jepang. Lucu sih,semua bangsa lain (Korea, Cina, Burma,Vietnam, dan Afrika)benci dengan bekas penjajah bangsa mrk bukan benci dgn penduduk sesama yg telah hidup selama bertahun-tahun secara bersama contohnya cina kalau di Indonesia.

Masih ingatkah kita akan pembantaian WNI keturunan di tahun 1998??Saya pernah melihat bbrp cuplikan penjarahan,pemerkosaan dan penganiayaan terhadap para WNI keturunan,dalam hati saya hanya bisa berucap “ya ALLAH,seperti inikah kita memperlakukan rekan2 sesama rakyat Indonesia kita sendiri,bukankah mereka jg manusia seperti kita???Bukankah mereka saudara seTANAH AIR kita????”

Salah apa si cina? Mereka tidak punya salah apa-apa. Kenapa mereka kelihatannya buas dalam bisnis, tamak, dan rakus? Kenapa?

Karena mereka selama tinggal di Indonesia selalu diperlakukan sebagai orang luar dan di anak-tirikan. Coba bayangkan kalau anda-anda jadi cina, pasti anda-anda juga mau melindungi diri sendiri, siapa yg mau diperlakukan spt itu? Besok tidak makan atau mati? Yah, kalau mrk jd spt itu jg saya maklumi aja,mereka jadi cerdik, agak licik, mengambil kesempatan dalam kesempitan, jadinya berhasil memegang ekonomi Indonesia. Tapi lihat dl perjuangan dan usaha mereka, mrk juga bekerja keras dr NOL,dr bawah merangkak ke atas.

JAUH…..SANGAT JAUH LEBIH KERAS DARI KITA YG PRIBUMI. Bukan cuma di Indonesia saja,orang cina sepertinya hidup dimana saja akan bisa menangguk sukses.

Mereka(cina)tidak menyerah pada nasib, dan selalu INGIN MENJADIKAN DUA KALI LIPATNYA TARAF HIDUP MEREKA,kita yg pribumi, biasanya puas dengan keberhasilan kita dan BERmalas malasan karena merasa sudah diatas angin.

Bagi org cina, ini tidak berlaku, mau setinggi apapun jg kondisi mereka sekarang, mereka menginginkan yang lebih tinggi lagi.

Kita saja yg bodoh,mau-maunya mendengar omongan pemerintah yg brengsek dan mengkambing hitamkan WNI keturunan/cina.Karena mereka sendiri juga busuk tetapi takut ketahuan.Jadi mereka menggunakan cina sebagai tameng dan kambing hitamnya.

Lihat saja,sampai sekarang apakah pemerintah sudah menjalankan tugasnya dgn baik??Saya rasa blm,KORUPSI dimana-mana hasil penyakit turunan dr BELANDA,

Gimana mau hidup sebagai negara yg maju,Kalau kita tidak bisa bersatu dan memperbaiki kesalahan kita yg terdahulu serta tidak mengulanginya lg??

Negara yg maju harus bisa hidup dengan tentram satu sama lain tidak perduli dengan warna kulit, agama, dan keturunan.Semuanya hrs diakui sebagai satu bangsa dan satu kesatuan.

Contohnya Amerika, mau cari orang dari mana saja ada.Cuma mereka bersatu,dan mereka sadar tiap orang punya kejelekan masing-masing. Cuma tidak digembar-gemborkan, tapi dibicarakan dan dirubah. Hal bagus nya diambil,dan dipakai bersama-sama untuk memajukan negara mereka.

Dulu mereka jg sangat mendiskreditkan org HITAM/NEGRO tp seiring waktu mereka akhirnya sadar dan memperbaiki kesalahan mereka.Coba lah lihat America yg jg dipenuhi berbagai ras dan agama dr berbagai negara tp tidak pernah ada kerusuhan SARA.

Tidak segan-segan, atau gengsi, kalau gengsi-gengsi maka tidak akan maju.Harus open (terbuka) dan mau menerima kesalahan dan hrs mau berubah.

Akhir kata,ini tidak ada hubungannya dengan SARA.Hanya utk sharing dan mengatakan yg sebenarnya.

Rubahlah Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yg diakui.

MERDEKA..!!

sumber: http://kaskus.us/showthread.php?t=1099471

Oleh: M.Deman Putra Tarigan

Secara umum, fungsi bahasa adalah alat untuk berkomunikasi (Fasold,1991). Fungsi itu tentu sangat vital mengingat kita sebagai makhluk hidup membutuhkan komunikasi satu sama lain.

Bahasa sendiri terdiri dari berbagai jenis, mulai dari bahasa manusia hingga bahasa mesin. Bahasa manusia pun ada bermacam-macam. Di Indonesia saja ada sekitar 700an bahasa daerah selain bahasa Indonesia yang telah ditetapkan sebagai bahasa nasional.

Nah, kesalahan dalam berbahasa ternyata bisa berakibat tidak baik bahkan fatal. Bisa terjadi kesalahpahaman antara si penutur dengan lawan bicara. Itu terjadi jika apa yang dimaksud penutur tidak sama dengan apa yang dipahami pendengarnya.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya berbelanja di kawasan Blok M, Jakarta. “Mau beli untuk siapa? “ Tanya seorang kawan ketika saya memilih beberapa buah baju. “Untuk Bos, “ jawab saya.

“Wah, baik sekali kamu, Bos kamu gajinya lebih besar, pekerjaannya juga enak, hanya perlu menyuruh anak buah saja, tapi kamu masih ingat untuk membelikannya oleh-oleh, “ katanya seolah salut kepada saya.

“Bosku itu petani, manalah gajinya besar, kerjanya juga capek, dia nggak punya anak buah, “ jawab saya sambil melanjutkan memilih-milih baju yang cocok.

“Lho, kamu ini kerja di kantor, bagaimana mungkin bos kamu seorang petani? “ tanyanya semakin haran. Saya langsung menyadari bahwa si kawan tadi telah salah paham. Jelas dia mengartikan bos itu seperti arti yang sebenarnya, yaitu atasan di tempat saya bekerja.

“Hehe, maaf ya, maksudku aku membeli baju ini untuk orang tuaku. Di Medan, kami meyebut kedua orang tua dengan istilah bos. Jadi, ada bos cowok yang artinya ayah atau di Jakarta biasa disebut bokap, dan bos cewek yang artinya ibu atau yang di Jakarta biasa disebut nyokap, “ begitu saya menjelaskan.

“Orang Medan memang aneh ya? “ katanya sembari menahan geli.

Berbeda Arti
Di Medan, jelas orang-orangnya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, apalagi terdapat bermacam suku yang hidup rukun di sini. Pastilah bahasa Indonesia mendapat tempat yang istimewa apalagi karena sudah ditetapkan sebagai bahsa nasional kita.

Namun, bahasa Indonesia bisa berbeda maknanya jika yang menggunakan adalah orang Medan dan sekitarnya (Sumut). Ketika kita menyebut kereta, maka yang dimaksud itu adalah sepeda motor. Dan kereta-kereta di Medan biasanya mengisi minyak (baca: bensin) di galon (maksudnya: SPBU-stasiun pengisian bahan bakar umum).

Pajak bukan berarti kantor pelayanan pajak (KPP), tetapi pasar. Sedangkan pasar artinya jalan. Itulah sebabnya ada istilah Pasar 1, Pasar 2, dan seterusnya. Pusing, bukan? Oh iya, di Medan, pusing itu artinya berkeliling atau mengitari sesuatu. Bagaimana dengan pusing yang artinya sakit kepala? Kalau yang itu, orang Medan akan menyebutnya dengan pening. Pening kali kepalaku!

Itu belum seberapa,. Coba kita perhatikan lagi. Ketika ada yang menyebut, “Dia tukang kompas. “ Bukan berarti dia bekerja di harian Kompas, atau kerjanya menjajakan alat penunjuk arah mata angin itu, tapi dia adalah seorang yang senang meminta uang dari orang lain dengan cara memaksa.

Padanan kata kompas adalah nanduk. Contohnya: Ali suka nanduk Widia. Itu bukan berarti Ali memiliki tanduk dan suka menyeruduk si Widia. Maksud kalimat itu adalah si Ali selalu meminta uang (atau sesuatu) kepada si Widia dengan cara memaksa atau mengancam.

“Awas Bang, dia mau nembak! “ kata seorang penumpang, maaf, maksudnya sewa, kepada supir angkutan umum ( kadang disebut motor sewa). Itu bukan berarti si dia itu seorang polisi yang hendak menembak korbannya. Nembak maksudnya tidak membayar ongkos, sedangkan sewa berarti penumpang. Makanya supir-supir di Medan sering mengeluh. “Uh, payah kali pun sewa sekarang “. Itu berarti angkutannya sepi penumpang.

Dulu ketika saya masi kecil, ada istilah limper, limpul, dan limrat untuk meyebut satuan uang recehan. Limper artinya lima perak atau lima rupiah. Limpul artinya lima puluh rupiah, dan limrat artinya lima ratus rupiah.

Sebuah keunikan
“Bahasa Medan “, begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan bahasa yang dipakai orang-orang di Medan. Bahasanya adalah bahasa Indonesia dan bahasa karena menggunakan kata-kata atau singkatan dari kata-kata bahasa Indonesia ditambah kata-kata hasil “kreasi “ masyarakat Medan. Namun, kata-kata yang berasal dari bahasa Indonesia itu sudah melenceng dari arti yang sebenarnya. Hal ini tentu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman antara si pembicara dan si pendengar. Tentunya hal ini tidak berlaku bagi orang Medan yang sudah sama-sama memahami “bahasa Medan “.

Untuk “bahasa Medan “ yang kata-katanya “buatan sendiri “, tentu tidak akan menimbulkan kesalahpahaman, sebab bagi yang tidak memahami artinya hanya akan menghadapi resiko yaitu bingung. Mereka pasti akan bertanya apa arti dari pencorot, lantak, kedan, sudako, balen, lasak, atau angek. Namun, jika kata yang dipakai berasal dari bahasa Indonesia, tentu para pendengar sudah memahami arti yang sebenarnya, eh, ternyata yang dimaksud lain lagi. Bisa kecele, bukan?

Apakah kesalahan berbahasa ini sebuah kekayaan bagi kita? Entahlah, yang jelas, “bahasa Medan “adalah sebuah keunikan yang terus terjaga kelestariannya. Bahkan terkadang para penuturnya menganggap “Bahasa Medan“ sebagai sebuah kebanggaan. Saya pernah menemukan “Kamus Bahasa Medan“ yang dikirim seorang kawan melalui surat elektronik (e-mail). Di sana terdapat kata-kata dalam bahasa Indonesia beserta artinya jika kata-kata itu “diamalkan“ oleh orang Medan. Kamus itu konon sebagai referensi bagi orang-orang yang hendak berkunjung ke Medan agar tidak bingung.

Iseng saya mengetik kata kunci “bahasa Medan“ di Google, hasilnya: ada 150 ribu halaman situs web yang memuat atau berhubungan dengan “bahasa Medan“. Wah, sudah mendunia juga, paling tidak di dunia maya, bahasa kita ini.

Begitulah “bahasa Medan“ yang sering membuat orang-orang dari kota lain bingung. Ia bukanlah bahasa daerah. Ia bukan bahasa Batak, Melayu, Karo, Dairi, Mandailing, Nias, Tionghoa, Minang, atau Jawa. Ia adalah bahasa Indonesia dan hasil kreasi masyarakat Medan sendiri. Mau kau coba???

Tulisan ini dimuat di Harian Analisa tanggal 23 Agustus 2008. Penulis adalah Ketua Kelompok Studi: Sosial, Ekonomi, dan Teknologi Informasi (KS-SEKTI).