Arsip Bulanan: Mei 2008

You taught me everything
And everything you’ve given me
I’ll always keep it inside
You’re the driving force in my life, yeah
There isn’t anything
Or anyone that I could be
And it just wouldn’t feel right
If I didn’t have you by my side

You were there for me to love and care for me
When skies were grey
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be what you have been to me
You will always be
You will always be the girl in my life for all times

*Chorus*
Mama, mama you know I love you
Ooh you know I love you
Mama, mama you’re the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars (yes it is)
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul
Yes it is, yes it is (ooh), yes it is, yes it is, yes it is

You’re always down for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong (yes you did)
And you took up for me
When everyone was downin’ me
You always did understand
You gave me strength to go on

There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you’d come to me
And say to me I could face anything
And no one else can do
What you have done for me
You’ll always be
You will always be the girl in my life (ooh)

*Chorus*
Mama, mama you know I love you
Ooh you know I love you
Mama, mama you’re the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars (yes it is)
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul

*Bridge*
Never gonna go a day without you
Fills me up just thinking about you
Could never go a day without my mama

*Chorus*
Mama, mama you know I love you
Ooh you know I love you
Mama, mama you’re the queen of my heart
Your love is like
Tears from the stars
Mama, I just want you to know
Lovin’ you is like food to my soul
Ooh, yeah yeah
You are the food to my soul
Yes you are, oh

Komentar:
Lirik lagu yang sangat menyentuh hiks2, jadi kangen ma ma2…

Yesssssssss, akhirnya hari ini tim Garuda Bandung berhasil menang dari Satria Muda Britama (SM Britama) dengan skor akhir 61-60. Selamat untuk Cokorda yang menjadi Man of the Match di pertandingan kali ini. Dan Bravo untuk Denny Sumargo yang melakukan shoot penentuan yang mengantarkan Garuda Bandung memenangkan partai ke-3 dari total 5 partai final IBL, dimana partai ke-4 akan dilangsungkan besok dan disiarkan secara live oleh Tv One. Sebelumnya, tim SM Britama telah memenangkan 2 partai awal yang dilangsungkan di kandang SM sendiri di Jakarta, sebelum akhirnya Garuda berhasil mencuri 1 poin dari SM di kandang Garuda Bandung hari ini. Jika besok Garuda berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2, maka partai ke-5 akan kembali dilangsungkan di kandang SM Britama Jakarta seminggu dari sekarang. Duh, tadi sempat deg-degan karena tim Garuda tertinggal terus selama 3 quarter pertama sebelum mereka akhirnya berhasil menang dari SM di detik-detik terakhir quarter ke-4 melalui tembakan 2 poin yang dilakukan oleh Denny Sumargo, MVP ( Most Valuable Player) IBL 2008 ( yang ini pemain fave gue lho di IBL hehehe). Sayangnya, di babak ke-3 ini Denny Sumargo hanya bermain sebentar dengan kondisi kaki yang belum pulih 100% setelah cedera yang diperoleh saat pertandingan partai ke-2 di Jakarta melawan SM sepekan lalu, dimana pada saat itu Denny yang baru bermain beberapa menit langsung ditarik keluar setelah cedera dan tidak dapat bermain lagi sepanjang sisa pertandingan. Tanpa kehadiran Denny Sumargo di partai ke-2 itu, Garuda Bandung tetap bermain bagus walaupun akhirnya harus kalah dari SM dengan skor 45-46. Hal yang sangat gue sayangkan, karena seandainya tembakan 2 poin Agui Sigar masuk di detik-detik terakhir pertandingan, tentu Garuda pada saat ini sudah memimpin dengan skor 2-1 atas SM. Tim manapun yang akan menang di final IBL kali ini akan menorehkan sejarah baru bagi kedua tim. Jika menang, SM akan menjadi juara 3 kali berturut-turut pertama di IBL, sedangkan bagi Garuda, mereka akan menjadi juara baru di IBL jika mampu menundukkan SM di laga final ini.
GO GARUDA!!!
GO DENNY SUMARGO!!!

Beberapa hari yang lalu, gue baca sebuah novel yang berjudul 3600 detik, nama pengarangnya adalah Charon. Eitt, jangan berpikir kalau cerita novel ini berhubungan dengan pembunuhan atau minimal ada kaitannya sedikit dengan film seri barat 24 hours seperti yang dipikirkan pertama kali oleh teman gue ketika gue nyeritain tentang novel ini. Kenyataannya novel ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembunuhan atau semacamnya, bahkan jauh sekali.

Novel ini menceritakan tentang seorang cewek bernama Sandra yang menjadi anak korban perceraian kedua orangtuanya, terlebih lagi dia kemudian ditinggal keluar negeri oleh ayahnya dan diasuh oleh ibunya yang tidak akur dengannya sehingga dia pun kehilangan kepercayaan terhadap satu-satunya orang yang paling disayangi sekaligus dipercayainya. Sebagai wujud protesnya, dia pun kemudian berusahan merusak hidupnya sendiri, mulai dari merokok, bolos sekolah, melawan guru-guru dll yang mengakibatkan dia dikeluarkan oleh sekolahnya dan berakhir dengan gonta-ganti sekolah. Setelah ibunya pindah ke kota baru karena pekerjaannya, Sandra pun mengikuti kepindahan ibunya dan bersekolah di sekolah baru. Lingkungan baru yang diharapkan ibunya dapat memberikan awal yang baru bagi mereka berdua akhirnya dapat terwujud setelah melalui berbagai peristiwa. Di sekolah baru ini, Sandra bertemu dengan seorang cowok bernama Leon yang mengajarkan tentang arti hidup, makna keluarga dan bersedia menjadi teman yang baik bagi Sandra di saat semua orang menjauhi gadis urakan sepertinya, dan juga seorang wali kelas yang bersikap mengayomi, bukan menghakimi, dan bersedia memberikan kesempatan kedua untuknya di saat kebanyakan sekolah memutuskan cara yang terbaik adalah dengan mengeluarkan anak-anak bermasalah sepertinya. Lambat laun Sandra pun mulai berubah dan hubungannya dengan ibunya pun mulai membaik. Sayang, Leon ternyata adalah anak yang mempunyai kelainan jantung sejak lahir. Akhirnya dapat ditebak, Leon meninggal sewaktu menjalani operasi jantung, sebuah operasi yang sempat ditentang oleh kedua orangtuanya dan juga Sandra, karena operasi ini sangat beresiko, kemungkinannya 50-50 antara sembuh total atau malah meninggal. Namun sebelum Leon meninggal, dia telah mencicipi kehidupan yang cukup normal bersama Sandra, kehidupan yang tidak pernah diperolehnya sejak kanak-kanak karena penyakit yang dideritanya. Dia juga telah mengubah seorang anak gadis urakan untuk kemudian berhenti merusak kehidupannya sendiri dan malah akhirnya melanjutkan cita-cita Leon untuk menjadi dokter dengan tekad menyembuhkan anak-anak yang sakit seperti Leon.

Komentar gue adalah, walaupun ide novel ini mungkin sudah bukan hal baru, namun sang penulis mampu menggugah perasaan pembaca dengan caranya sendiri, bagaimana hubungan Sandra dengan kedua orang tuanya yang akhirnya membaik, kematian Leon yang telah mengubah Sandra ke arah yang lebih baik dan bagaimana sikap seorang guru yang mau memberikan kesempatan kedua bagi seorang anak bermasalah telah ikut berjasa membawa perubahan bagi Sandra. Membaca novel ini, gue jadi teringat ma2 gue, gue jadi bener2 menyadari bahwa ketika kita melawan atau berkata kasar pada orangtua kita, mereka pasti akan merasa sangat sedih, kecewa dan terluka, walaupun mungkin mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan di hadapan kita. Buat Ma2, I apologize for every little thing I’ve done that make you cry, make you hurt, I really don’t mean it, sorry Mom, I love you.

Setelah di post sebelumnya yang menyinggung sedikit tentang tenis meja, gue jadi pengen bernostalgia dengan menceritakan sedikit tentang tim tenis meja 3 IPA 1 alias kelas gue dulu di SMA. Sebenarnya kurang tepat kalau gue sebut tim, karena kita hanya sekedar iseng bermain di jam-jam sepulang sekolah ataupun di sela-sela kegiatan sekolah yang berlangsung di sore hari, tapi berhubung gue nggak bisa menemukan kata lain selain itu, jadi ya terima aja d kalo gue sebut tim hehehe. Tim ini terdiri dari gue, Sugi, Julianto, M.Hazril, Augustini, Denny, Charles, Alex, Ai cen, Lisa dan Emi. Kami biasanya dapat menghabiskan waktu berjam-jam di sekolah pada sore hari walaupun sebenarnya sedang tidak ada kegiatan apapun di sekolah. Bahkan guru olahraga kami aja yang ada 2 orang ampe bosen ngeliat kami yang terus menerus nongol di sekolah setiap hari, tentu aja di tempat latihan tenis mejanya, bukan di kelas. Tentu saja selama bermain tenis meja bersama itu, ada beberapa kejadian lucu yang kami alami, mulai dari ulah konyol teman2, salah satunya yang gue inget adalah aksi konyol Alex yang menyanyikan lagu (gue lupa lagu apa) dengan gaya khas Sinchan yang suka meniru superman, ultraman ato apalah itu, kemudian aksi panjat memanjat cowo yang harus memanjat ke dalam kelas yang sudah dikunci sehabis jam sekolah karena bolanya nyasar kesana ( ada sebagian kelas di sekolah gue yang bagian atasnya memang tidak tertutup, kebetulan tempat latihan tenis mejanya dekat dengan 2 kelas yang seperti itu), yang paling lucu adalah aksi sugi yang mungkin sedang mencoba berakrobat dengan cara melompati salah satu meja yang ada untuk kemudian langsung memegang bagian atas pintu kelas yang cukup tinggi, dan tentu sajaaaaaa………….. dia pun jatuh dengan sukses hehehe, tenang aja, dia nggak apa-apa kok, lecet pun nggak, kalo iya masa sih kita segitu teganya ngetawain dia hehe. Kemudian aksi salah satu guru olahraga kami yang masih muda dan rada-rada sableng ( hehe, becanda kok, Pak), sore itu hanya tinggal gue dan Augustini yang lagi main dan sugi yang jadi wasit, tiba-tiba, guru gue yang baru selesai mengajar itu datang ke tempat latihan kami dan kemudian menyanyikan soundtrack film Alexandria alias lagu Peterpan yang “tak bisakah kau menungguku, hingga nanti tetap menunggu lalala“ sambil bergaya sedang genjreng-genjreng gitar menggunakan buku absensi yang dipegangnya. Tau kan cerita tentang film Alexandria yang mengisahkan 2 orang cowo yang bersaing memperebutkan cinta seorang cewe?? Nah, guru kami ini mungkin menganggap gue n augustini waktu itu sedang bertanding untuk memperebutkan cinta Sugi, haiyahhhhh, si bapak kebanyakan nonton sinetron ih hehehe. Gara-gara tenis meja ini jugalah, di album kenangan sekolah kami, di bagian komentar untuk gue, tertulis “Saking cintanya dengan tenis meja, cewe yang satu ini rela membolos pelajaran demi main tenis meja“, komentar yang agak hiperbol menurut gue, ok, gue emang pernah bolos lab komputer 1x buat maen tenis meja, maksud gue, “ Sapa sih yang inget ama kejadian itu, kan cuman 1x??? “ hehehe. Gue curiga nih pelakunya ada di antara tim tenis meja kami ( y iyalah, kalo nggak sapa lagi coba??? hahahaha). Duh bener-bener kangen deh ama masa-masa itu, sayang kami nggak sempet foto-foto dulu, nggak ada satupun foto tim kami ini, dulu sempet mikir mo foto di hari perpisahan sekolah, tapi ntah kenapa malah ga jadi, padahal kan lumayan buat kenang-kenangan hiks2, huweeeee…… T.T

Tanggal 22 Mei lalu tepatnya jam 1 pagi, gue browsing n download lagu sambil menyaksikan pertandingan final liga Champion yang mempertemukan 2 kesebelasan dari Inggris yaitu Manchester United (MU) dan Chelsea. Setelah 2 babak, skor kedua kesebelasan tersebut adalah 1-1 dimana gol dari kesebelasan MU dicetak oleh Christiano Ronaldo sementara gol dari kesebelasan Chelsea dicetak oleh Frank Lampard. Pertandingan akhirnya harus ditentukan pemenangnya melalui adu penalti setelah skor tersebut tidak berubah melalui perpanjangan waktu 2×15 menit. Setelah drama adu penalti yang menegangkan, MU akhirnya berhasil menang dan menjadi juara liga Champion tahun ini setelah tendangan penalti dari Anelka (Chelsea) berhasil ditahan oleh kiper MU (Van Der Sar). Yang membuat gue sedih adalah, setelah pertandingan, kamera terus menyorot Terry (kapten kesebelasan Chelsea) yang terus menangis karena merasa sangat terpukul setelah tendangan penalti ke-5 yang akan mengantar Chelsea menjadi juara baru, gagal dieksekusi olehnya karena terpeleset akibat lapangan yang licin sehabis hujan. Sebelumnya di tendangan penalti ke-3 kalau nggak salah, Christiano Ronaldo dari kesebelasan MU juga gagal memasukkan bola, sehingga dia terlihat sangat bahagia setelah akhirnya MU berhasil menang (tentu aja, kalau MU sampai kalah, si bintang besar inilah yang akan jadi kambing hitam atas kalahnya tim MU). Setelah tendangan Anelka berhasil ditahan oleh kiper dari MU, kamera langsung menyorot Ronaldo yang langsung berbaring di lapangan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan ( mungkin dia juga nangis, tapi yang jelas tangis bahagia, bukan tangisan penuh rasa bersalah seperti Terry).

Komentar pribadi:
Sepertinya, menanggung kekalahan group yang disebabkan kesalahan pribadi memang lebih menyakitkan dibanding menanggung kekalahan secara individu,seperti yang dialami oleh Terry, yang pasti merasa dirinyalah yang menyebabkan Chelsea kalah, walaupun mungkin dia hanya sedang apes (bayangin aja, lapangan emang bechek (ngomongnya ala Cinta Laura), tapi kan cuman dia yang kepleset, yang laen nggak tu,moreover dia kepleset di tendangan penentuan, nah dia kurang apes apalagi coba). Masalahnya, hal ini pernah saya alami sendiri sehingga saya sangat mengerti perasaan Terry (halah, sotoy banget y gue hehe). Ceritanya begini nih, dulu sewaktu kelas 3 SMA, gue pernah ngikutin lomba tenis meja antar sekolah, ada 3 orang dari setiap tim, salah satunya gue yang waktu itu turun di partai ganda dan tunggal kedua. Tim sekolah kami berhasil melaju sampai ke babak final, nah di babak final inilah ceritanya berawal, setelah tunggal pertama kalah, sebagai bagian dari strategi pelatih, gue nggak diturunkan di partai ganda, melainkan sebagai tunggal kedua setelah akhirnya tim sekolah kami berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Sebagai pemain penentu, tentu saja beban mental yang harus dipikul menjadi sangat berat. Setelah pertandingan 3 set kalo nggak salah, gue akhirnya harus menyerah kalah dari tim sekolah lawan. Gue cukup kecewa memang, tapi yang lebih menyakitkan adalah sikap dari salah satu anggota tim gue yang sepertinya menyalahkan gue atas kalahnya tim (ntah cuman perasaan gue ato gimana, dia sih nggak ngomong apa2 ke gue, cuman air mukanya itu lho, sepertinya kesel banget, sangat beda dengan perlakuan anggota tim yang satunya lagi). Beda kalau kita hanya menanggung kekalahan secara individu, yang jelas, di tahun yang sama, gue juga kalah di pertandingan catur dengan musuh bebuyutan gue sejak SMP kelas 3 ( hiperbol banget yah bahasanya hehe), lawan yang paling gue segani selama 6 tahun ikut pertandingan catur sekolah, perasaannya sedikit kecewa, tapi sangat berbeda dibandingkan kekecewaan karena kesalahan elo yang menyebabkan kekalahan tim (yang ini berpuluh2 kali lipat nyeseknya hehe). Sayang setelah lulus SMA, dua olahraga ini sudah gue tinggalkan, termasuk badminton dan voli yang pernah gue tekuni dulu. Jadi kangennnn……………hehehe, terutama ama tenis meja. T.T

Komentar nggak penting:
Frank Lampard cakep euy hahaha ( bagi para pembaca, jangan protes! namanya juga komen nggak penting hehehe. walaupun ini pertandingan olahraga, cowo yang bening nggak boleh lolos dari pengawasan dunk wkwkwk)

Seminggu yg lalu, dari tanggal 11-18 Mei, gue ngendon terus nih di kamar dalam rangka menyaksikan piala Thomas n Uber cup yg ditayangin secara langsung di trans tv hehe. Sayangnya, baik tim Thomas maupun Uber Indonesia yang gue dukung kalah semua hiks2.

Sekedar pemberitahuan, tim Uber Indonesia melaju ke final setelah mengalahkan tim Uber Jepang dan Belanda di babak penyisihan, Hongkong di quarter final, dan Jerman di semifinal sebelum akhirnya dikalahkan oleh tim Cina di final. Yah sebenarnya gue juga nggak terlalu berharap sih tim Uber Indonesia bisa menang dari Cina, kelihatannya hanya keajaibanlah yang bisa membuat mereka menang (^.^), walaupun begitu gue berharap bisa melihat pertandingan yang seru antara kedua tim tersebut. Sayang pertandingan hanya berlangsung sampai partai ke-3 karena Indonesia kalah 3-0 dari Cina. Partai pertama dan ketiga tidak terlalu seru karena tunggal pertama dan kedua yang diturunkan Indonesia mempunyai perbedaan peringkat yang cukup jauh dengan xie xi fang dan lu lan ( tunggal pertama dan kedua dari Cina) yang mempunyai peringkat 1 dan 2 dunia. Satu-satunya partai yang seru adalah partai kedua yang menampilkan pasangan ganda pertama dari masing-masing negara. Indonesia memberikan perlawanan yang keras dan sangat tangguh sehingga merepotkan pasangan ganda dari Cina. Namun pertandingan akhirnya berhasil dimenangkan oleh Cina dengan rubber set (tiga set).

Satu peristiwa yang gue inget dari pertandingan ini adalah pada saat skor 16-16 di set yang ketiga, kamera tiba-tiba menyorot pada ketua KONI yang sedang khusyuk berdoa sambil komat kamit, lucunya, setelah itu, bukannya tim Indonesia menang dan mencuri 1 point dari Cina, malah skor pasangan ganda Indonesia itu tidak bertambah lagi dan stuck di angka 16 sampai dengan akhir pertandingan set ketiga yang akhirnya dimenangkan pasangan ganda Cina dengan skor 21-16. Ternyata doanya nggak manjur y hahaha.

Sedangkan dari tim Thomas, Indonesia hanya melaju sampai babak semifinal setelah mengalahkan Thailand dan Jerman di babak penyisihan dan Inggris di quarter final sebelum akhirnya harus mengakui kehebatan tim Thomas Korea di babak semifinal. Tim Thomas Korea kemudian melaju ke babak final menghadapi Tim Thomas Cina setelah mengalahkan Indonesia dengan skor 3-0. Hal yang sama sekali nggak gue sangka karena secara peringkat, pemain Indonesia masih lebih unggul dibanding pemain-pemain dari Korea. Sony Dwi Kuncoro dan Taufik HIdayat ( tunggal pertama dan kedua dari Indonesia) harus menyerah kalah dari Park S H dan Lee Hyun Il ( tunggal pertama dan kedua dari Korea), bahkan pasangan ganda Markis Kido dan Hendra Setiawan dari Indonesia yang merupakan peringkat pertama dunia saat ini berhasil ditundukkan oleh Lee Yong Dae dan Jung Jae Sung dari Korea yang saat ini berada di peringkat ketiga dunia. Walaupun tim Thomas Indonesia telah kalah, gue tetep nonton final Thomas Cup yang mempertemukan tim Cina dan Korea (harus dunk, final kan yang paling seru, 2 tim yang paling kuat akan bertanding memperebutkan piala Thomas). Skor akhir dari pertandingan Cina vs Korea adalah 3-1. Satu-satunya kemenangan korea diraih oleh pasangan ganda pertama yang menundukkan Markis Kido dan Hendra Setiawan di babak semifinal, yang kemudian menundukkan pasangan Cina yang saat ini merupakan peringkat kedua dunia. Salut d buat mereka, peringkat satu dan dua dunia berhasil disikat ma mereka ^^. Sedangkan kemenangan Cina diraih oleh Lin Dan (tunggal pertama dari Cina) yang menundukkan Park S H (tunggal pertama dari Korea), Bao Cun Lai (tunggal kedua Cina) yang mengalahkan Lee Hyun Il ( tunggal kedua Korea), dan penentu kemenangan adalah pasangan ganda kedua dari Cina yang mengalahkan pasangan ganda kedua dari Korea dengan dua set langsung.

Akhir kata, walaupun sedih tim Indonesia kalah, gue ngucapin selamat d buat tim Thomas Cina yang berhasil meraih piala Thomas untuk yang ke-7 kalinya dan tim Uber Cina yang meraih piala Uber untuk yang ke-11 kalinya.